Hubungan Sehat dengan Iman


Menurut penelitian David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok.

Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.

Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah

Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3
Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.

Tertawa, Catatan Neuropsikologi


Pembuka
T: Apa bedanya zebra jantan sama yang betina?
J: Jelaslah, alat reproduksinya.
T: Kalau dari jauh mana kau tahu? Dia kan cepat larinya.
J: Emang gimana bedanya?
T: Zebra jantan itu dasarnya hitam, bergaris-garis putih.
J: Lha kalau yang betina bukannya sama?
T: Nah zebra betina itu dasarnya putih, bergaris-garis hitam...

Ada sebuah pengalaman menarik beberapa hari yang lalu. Usai sebuah tulisan saya yang berjudul Anda Dokter? Preet!... dimuat di sebuah harian umum dengan judul lain (editor yang ngganti), ada puluhan SMS masuk dari nomer orang yang tidak saya kenal. Hampir semua bertujuan menyatakan terima kasih, ada yang sedang dirundung masalah keluarga bisa merasa gembira ketika mampu tertawa, ada yang bilang matur nuwun karena telah membuat harinya ceria. Ada satu SMS yang kemudian mendorong saya untuk mencari referensi tentang manfaat humor bagi kesehatan:

Assalamu'alaikum Dr Hasto Cht, sebenarnya hr ini saya ckp tegang membaca Republika yg terkait kasus Cicak-Buaya n Komodo, dr berita, opini, tajuk, yg semuanya membuat tensi saya naik, namun setelah membaca nostalgia bapak, tensi saya normal kembali...dst
(... selanjutnya Bapak yang tinggal di Solo tersebut berkonsultasi tentang penyakit istrinya)


Tertawa itu sehat,ungkapan yang terdengan klasik dan ketinggalan jaman ini ternyata bukan omong monthong, bukan isapan jempol dan tentu saja bukan isapan jari-jari yang lain. Tertawa bisa membantu Anda untuk lebih positif sehingga selanjutnya Anda akan terbiasa berpikir dengan cara yang lebih postif. Tertawa, merupakan cara yang paling baik dan paling ekonomis dalam melawan stres, Anda tidak perlu ngundang Sule atau mbayar retribusi untuk tertawa. Tertawa merelaksasi otot-otot yang tegang, ndak perlu obat muscle relaxan. Tertawa juga melebarkan pembuluh darah sehingga memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh. Selain itu, tertawa juga berperan dalam menurunkan kadar hormon stres epinephrine dan cortisol. Perlu diketahui, yoga, relaksasi, meditasi untuk kesehatan menggunakan mekanisme yang sama. Jadi, bisa dikatakan kalau tertawa merupakan meditasi dinamis atau teknik relaksasi yang dinamis. Bedanya, Anda tidak perlu memusatkan pikiran. Karena itu, tertawa merupakan bentuk meditasi yang paling mudah dan bisa membuat Anda relaks dalam waktu singkat.

Selain untuk mengatasi stres, berikut beberapa manfat lain dari tertawa:

Penghilang rasa sakit alami
Jangan memaki rasa sakit, misuh-misuh, atau nggrundhel kalau sedang encok atau migrain. jangan meratapi rasa sakit, tetapi hayo ngguyu..! Tertawa bisa meningkatkan jumlah endorphin, penghilang rasa sakit alami, di dalam tubuh. Norman Cousins, seorang jurnalis dari Amerika yang menderita sakit tulang belakang mengalami perbaikan setelah mengikuti terapi tertawa. Padahal sebelumnya obat-obat penghilang rasa sakit yang digunakan sama sekali tidak membantu mengurangi rasa sakitnya. Endorphin yang dilepaskan saat tertawa membantu mengurangi intensitas rasa sakit pada mereka yang menderita radang sendi, serta kekakuan pada otot-otot. Banyak perempuan juga melaporkan mengalami pengurangan rasa sakit akibat migrain dan jenis sakit kepala lainnya.

Menguatkan imunitas tubuh
Sistem imun (kekebalan tubuh) berperan besar dalam menjaga kesehatan dan melawan infeksi, alergi serta kanker. Para psychoneuroimmunologist telah membuktikan bahwa semua emosi negatif seperti kecemasan, depresi atau kemarahan akan memperlemah sistem kekebalan tubuh. Karena itu akan mengurangi kemampuan melawan infeksi. Menurut Dr. Lee S. Berk dari Loma Linda University, California, USA, seperti dikutip situs latterklub, tertawa membantu meningkatkan jumlah sel-sel pembunuh alami (dikenal dengan sel NK, sejenis sel darah putih) serta meningkatkan kadar antibodi.

Penelitian telah menemukan, setelah terapi tertawa, terjadi peningkatan jumlah antibodi (immunoglobin A) pada mucus atau lendir dalam hidung serta saluran pernapasan. Hal ini diyakini bisa melindungi dari serangan virus, bakteri serta mikroorganisme lainnya. Efek tertawa dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh dinyatakan sangat signifikan dalam menangani penyakit mematikan seperti AIDS dan kanker.

Latihan aerobik paling uenak
Mereka yang telah melakukan terapi tertawa mengaku merasa segar sepanjang hari setelah tertawa selama 15 menit di pagi hari. Tidak ada obat seperti tertawa, yang bisa mendatangkan manfaat dalam waktu instan. Dengan tertawa, Anda akan menghirup lebih banyak oksigen sehingga Anda juga merasa lebih baik. Tertawa bisa dibandingkan dengan latihan aerobik lainnya, tapi tentunya Anda tidak perlu memakai sepatu dan baju yang khusus. Anda juga tidak perlu berkeringat di lajur jogging. Menurut Dr. William Fry dari Standford University, 1 menit tertawa setara dengan 10 menit latihan di sepeda mesin. Dengan kata lain, tertawa akan menstimulus jantung dan sirkulasi darah, sama seperti latihan aerobik standar lainnya.
Dalam majalah kesehatan Jerman Apotheke Umschau, Profesor Gunther Sickl, ahli gelotologi dari Universitas Berlin menerangkan bahwa untuk membuat sebuah tertawa yang lepas, dibutuhkan kerja dari 80 otot, kedua bahu bergerak, rongga dada berguncang dan diafragma (sekat rongga dada) bergetar dan semua itu membuat tubuh mendapat latihan yang sangat menyehatkan, hanya dengan sedikit usaha yang dikeluarkan untuk tertawa.


Mengontrol tekanan darah tinggi
Selain faktor keturunan, obesitas, merokok serta kelebihan lemak jenuh, stres merupakan salah satu faktor utama penyebab tekanan darah tinggi dan penyakit jantung. Dan dengan tertawa, Anda bisa membantu mengontrol tekanan darah dengan cara mengurangi stres berkaitan dengan hormon serta membuat Anda relaks.

Hasil percobaan telah menunjukkan, mengikuti sesi tertawa selama 10 menit terbukti bisa menurunkan tekanan darah sebanyak 10-20 mmHg. Tapi, tidak berarti kalau tertawa 120 menit tekanan darah Anda jadi nol. Bablas dong, hehehe...


Menyehatkan organ dalam
Banyak olahraga yang bisa dilakukan untuk menguatkan otot-otot tubuh, selain catur dan main poker tentunya, tapi tertawa juga sekaligus berperan sebagai pijatan bagi organ-organ dalam. Tertawa bisa meningkatkan suplai darah. Tertawa bisa menjadi pijatan terbaik bagi otot diafragma dan usus halus. Tertawa akan meningkatkan suplai darah dan membantu agar usus bisa bergerak dengan benar.

Awet muda
Nah ini, bagi yang tidak kepingin cepet tua. Nggak perlu susuk-susukan! Botox-botoxan! Plastik-plastikan! Biar kelihatan awet muda, otot wajah juga ada olahraganya. Tertawa bisa mengencangkan otot wajah dan meningkatkan ekspresi wajah. Saat tertawa, wajah memerah karena peningkatan suplai darah di dalam tubuh, yang sekaligus akan menutrisi kulit wajah dan membuat kulit lebih bersinar. Mereka yang tertawa terlihat lebih gembira dan menarik. Tertawa akan menekan kelenjar air mata. Hal ini melembabkan mata dan membuat mata Anda lebih bersinar. Tertawa juga melatih otot-otot perut, biar six pack kayak Rambo.

Mengatasi depresi dan gangguan cemas
Stres dan tekanan akibat gaya hidup modern merupakan beban bagi tubuh dan jiwa Anda. Akibatnya, penyakit yang berkaitan dengan pikiran seperti kecemasan, depresi, gangguan mental serta insomnia juga semakin meningkat. Untuk mengatasi hal ini, cobalah tertawa. Banyak pasien pengguna obat antidepresan merasa jauh lebih baik setelah tertawa.
Ketika Anda sedang sedih, jangan dinikmati sedihnya...nangis sambil ngaca kaya model video klip. Tertawalah! Tarik otot-otot wajah anda seperti wajah ketika Anda tertawa senang, walaupun suasana hati Anda tidak demikian.
Gemblung apa? Ngajarin kok yang enggak-enggak.
Lho baca ini: Otak mengingat sesuatu untuk kurun waktu yang sangat lama dan agak mustahil ia sepenuhnya lupa hal-hal yang pernah ia alami. Jadi, jika Anda mencoba tersenyum saat anda merasa sedih, otak bawah sadar akan mengingat bahwa di masa lalu ekpresi ini berkaitan dengan kebahgiaan, dan akan segera menanggapinya dengan cara melepaskan neurotransmiter-neurotransmiter yang menghasilkan sensasi bahagia. Hasilnya kita akan menjadi lebih berbahagia dan merasa lebih positif (Plutchik, 2002).

Enak, toh?
Tunggu apalagi, tertawalah dengan lepas bahkan sekalipun tidak ada hal yang pantas untuk membuat tertawa ketika Anda memang membutuhkan (dan saya yakin untuk hidup sehat di jaman riweuh kaya gini kita perlu lebih sering tertawa).
Saran saya sederhana: bila Anda ingin gampang sakit, cepat tua terus mati pelan-pelan: jangan senang tertawa!

Wallahu a'lam.

Penutup
Usai membaca tulisan ini seekor ular latihan tertawa terbihik-bihik. Bukan main usahanya untuk awet muda. Berguling-guling dia. Kakinya jejingkrakan, perutnya terguncang-guncang, lebar sekali tawanya.
Namun semenit sesudah itu dia bertanya kepada temannya dengan wajah pucat:
Ular Sanca : Saudara Rangon, saya ini termasuk jenis ular berbisa apa bukan?
Ular Rangon : Lah emang kenape?
Ular Sanca : Barusan bibir saya nggak sengaja kegigit...

Sejarah Nama Indonesia


Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai(Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang) nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar,seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi(Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.


Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini ku rang populer. Bagi orang Bandung,Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.
Nusantara

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa).

Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah(kerendahan peradaban) itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
Nama Indonesia

Nama Indonesia Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA. Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74,Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

.. the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago.

Ketika mengusulkan nama " Indonesia "agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama " Indonesia " dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah " Indonesia " di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah " Indonesia " itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan- tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakanistilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara).Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Makna Politis

Makna politis Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitassuatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curigadan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Loganitu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. "

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda. Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch- Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.
Sebutan Lain Nama Indonesia

* Indonesia (Bahasa Finlandia, Indonesia, Italia, Melayu, Romans, Spanyol)
* Indónesía (Islandia)
* Indonésia (Portugis)
* Indonesja (Malta)
* Indonésie (Ceko, Perancis)
* Indonesië (Afrikaans, Belanda)
* Indonesien (Jerman, Swedia)
* Indonezia (Rumania)
* Indonézia (Hongaria)
* Indonezja (Polandia)
* Indonezija (Kroasia, Lithuania, Slovenia)
* Indon?zija (Latvia)
* Indonezio (Esperanto)
* Endonezya (Turki)
* Indoneesia (Estonia)
* Indoneesiä (Võro)
* Indoneziya - (Bulgaria, Rusia)
* Indoneshia - (Jepang)
* Indonisía - (Yunani)
* Indonashia - (Urdu)
* Yìndùnìxyà - baca: Intunisiya(Tionghoa)

(yang ini bukan tulisan saya, disarikan dari beberapa sumber)

Peribahasa #4: Jung Pecah Hiu Berpesta


Sekalian regresi ke masa lalu, masa kejayaan manusia Jawa di samudera Hindia-Pasifik, saya ingin mengenalkan kata ini: Jung.

Tak banyak yang tahu istilah ini, bukan? Saya juga baru ngorek-ngorek literatur kok. Jung adalah perahu tangguh Jawa pada abad 13 - 17 Masehi yang merajai perairan Asia Tenggara. Kapal ini dibuat dengan konstruksi yang kokoh tanpa menggunakan paku ataupun baut. Konstruksi perahu bercadik sangat unik. Lambung perahu dibentuk dengan menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.
Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kesultanan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisa dikatakan, kapal jung jawa ini layak disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

"Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa." tulis pelaut Portugis Tome Pires dalam Summa Orientel (1515). Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. (wikipedia)

Oke, sudah terbayang ya apa itu jung?

Jungnya pecah kenapa ya, sehingga para hiu berpesta pora menyantap daging segar di tengah lautan?
Ini peribahasa leluhur berpesan agar ketika mengarungi pelayaran hidup hati-hatilah jangan sampai konyol dijadikan lalapan gerombolan hiu bergigi gingsul dan bergusi sehat itu. Berlayar-berlayarlah... Berkapal-berkapallah jangan sampai kapal kalian, jung kalian pecah!

Nah ini dia, penerawangan saya ke masa lalu menjelaskan bagaimana peribahasa ini tercipta.
Alkisah, berlayarlah sebuah jung besar dari pelabuhan utama pesisir utara Jawa. Jung itu diciptakan untuk memenuhi ambisi menemukan ujung lautan dan mengumpulkan kisah dari seluruh dunia. Lima orang nahkoda terhebat memimpin perjalanan besar tersebut mengangkut seratus peneliti dan ilmuwan. Pokoknya ekspedisi Mbah Charles Sudarwin dengan kapal HMS Beagle belum apa-apanya dibanding tim ekspedisi ilmiah wong Jowo ini.

Karena bukan mau ndongeng ceritanya saya persingkat. Begitu, bukan? Boleh, bukan?
Ceritanya di tengah perjalanan entah kesambet setan laut ngidam, atau lupa minum antimo, atau sekedar kepengin eksyen, alih-alih bersinergi, kelima nahkoda itu berebutan kemudi.
Semua merasa paling benar. Semua merasa paling waras. Semua merasa paling baik.
Dua bilah kemudi lambang prestise bagi mereka, taji mereka, patah parah. Hilanglah kendali.

Maka limbunglah jung yang gagah perkasa.
Meliuk-liuk tak tentu arah.
Menghajar ombak.
Layar terkembang tergulung.
Lunas buritan.
Badai yang selama ini tunduk unjuk dendam.
Lambung jung terhempas-hempas di gunung karang.
Bilah-bilah kayu merekah.

Jung pecah!
Aroma maut menusuk-nusuk.
Dan hiu-hiu lapar menyeringai.
Terbahak-bahak mencium arak ketakutan.

Amboi celaka tigabelas kliwon!
Jung pecah hiu berpesta!
Pecah oleh ambisi pribadi! Pecah oleh kebenaran sendiri!
Pecah oleh waham! Pecah oleh kesombongan!

Kita ini bangsa pewaris gen cerdas dan unggul, hulubalang samudera, penguasa bahari, mencipta candi kelas internasional, menggubah kitab sastra agung, para maestro, para begawan, para maharesi, mahaguru, kenapa jadi begini?
Jadi budak di rumah sendiri.
Jadi bahan slilit hiu berhidung mancung.

Tangi!