Keluhan nyeri pinggang sering saya jumpai di klinik. Banyak dari mereka menyambungkan keluhan ini dengan pertanyaan, "Apa karena saya kurang minum ya Dok? Perasaan sudah cukup dua liter sehari?"
Baiklah, mari kita lihat satu persatu apa saja penyakit yang gejalanya nyeri pinggang ini.
Berikut adalah beberapa penyebab tersering dari nyeri pinggang atau low back pain:
Peregangan tulang pinggang (akut, khronis)
Peregangan tulang pinggang adalah cidera regangan pada ligamentum, tendon dan otot pinggang. Regangan akan menyebabkan luka yang sangat kecil pada organ tersebut. Cidera yang paling sering menjadi biang kerok dari nyeri pinggang ini, disebabkan oleh beberapa hal antara lain, pergerakan yang berlebihan, pergerakan yang tidak benar atau trauma. Disebut akut bila keadaan ini berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, dan disebut khronis bila keadaan ini berlangsung lebih dari 3 bulan.
Peregangan tulang pinggang sering terjadi pada orang yang berumur diatas 40 tahun. Terkadang keadaan ini bisa menyerang tanpa batasan usia.
Gejala yang timbul dari keadaan ini antara lain adanya rasa tidak nyaman atau nyeri pada pinggang setelah pinggang mengalami tekanan mekanis. Derajat nyeri sangat tergantung dari seberapa banyak otot yang mengalami cidera.
Diagnosis peregangan pinggang ditegakan melalui wawancara untuk mengetahui riwayat trauma yang terjadi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan rontgen.
Penanganan nyeri pinggang oleh karena peregangan yang paling utama adalah mengistirahatkan pingang agar tidak terjadi cidera ulangan. Obat obatan diperlukan untuk meredakan nyeri dan melemaskan otot yang kaku. Bisa pula dilakukan pemijatan, penghangatan dan penguatan otot pinggang, namun tetapi harus dilakukan secara hati-hati.
Iritasi saraf
Serat serat saraf yang terbentang sepanjang tulang belakang dapat mengalami iritasi oleh karena pergeseran mekanis atau oleh penyakit. Keadaan ini termasuk penyakit diskus lumbar (radikulopathy), gangguan tulang, dan peradangan saraf akibat infeksi virus.
Radikulopathy lumbar
Radikulopathy lumbar adalah iritasi saraf yang disebabkan oleh karena rusaknya diskus antara tulang belakang. Kerusakan ini terjadi akibat dari adanya degenerasi dari cincin luar diskus, dan trauma atau kombinasi antara keduanya.
Penanganan penyakit ini memerlukan pengobatan konservatif dengan obat obatan atau bila keadaan parah bisa dilakukan tindakan pembedahan.
Kondisi tulang dan sendi
Kondisi tulang dan sendi yang bisa menyebabkan nyeri pinggang antara lain gangguang kongenital (bawaan), gangguan akibat proses degeneratif dan peradangan yang terjadi pada sendi.
Penyebab Lain Nyeri Pinggang
Penyebab lain dari nyeri pinggang antara lain :
Gangguan ginjal
Gangguan ginjal yang sering dihubungkan dengan nyeri pinggang antara lain infeksi ginjal, batu ginjal, dan perdarahan pada ginjal akibat trauma. Diagnosa ditegakan berdasarkan pemeriksaan kencing, dan pemeriksaan radiologi.
Kehamilan
Wanita hamil sering mengalami nyeri pinggang sebagai akibat dari tekanan mekanis pada tulang pinggang dan pengaruh dari posisi bayi dalam kandungan.
Masalah pada organ peranakan
Beberapa masalah pada organ peranakan perempuan yang dapat menimbulkan nyeri pinggang antara lain kista ovarium, tumor jinak rahim dan endometriosis.
Massa Tumor
Nyeri pinggang bisa pula disebabkan oleh karena tumor, baik tumor jinak maupun ganas. Tumor dapat terjadi lokal pada tulang pinggang atau terjadi di tempat lain tetapi mengalami metastase atau penyebaran ke tulang pinggang.
Penanganan :
Seperti telah dijelaskan diatas, penanganan nyeri pinggang sangat terggantung dari penyebab nyeri itu. Setiap kasus harus ditangani secara individual untuk mengetahui latar belakang dari keluhannya sehingga dapat dikelola dengan tepat.
Prinsip utama penanganan nyeri pinggang adalah mengatasi nyerinya terlebih dahulu, setelah itu baru dicari penyebab dari nyeri pinggangnya.
Cara mengurangi nyeri secara mandiri bisa dilakukan dengan relaksasi. Hipnoterapi merupakan cara yang bisa dipertimbangkan untuk mengurangi nyeri selain dengan pain killer drugs.
Psikologi Kebencian
Kebencian merupakan sebuah emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang, atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkannya. Kadangkala kebencian dideskripsikan sebagai lawan daripada cinta atau persahabatan; tetapi banyak orang yang menganggap bahwa lawan daripada cinta adalah ketidakpedulian. (sumber : Dikutip dari : id.wikipedia.org/wiki ). Benci (hate) adalah salah satu bagian dari sifat-sifat manusia.
Dalam ilmu psikologi, Dr. Sigmund Freud mendefinisikan benci sebagai pernyataan ego (ke-akuan) yang ingin menghancurkan sumber-sumber ketidak bahagiaannya.
Definisi benci yang lebih baru menurut Penguin Dictionary of Psychology (Wikipedia) adalah “emosi yang dalam dan bertahan kuat, yang mengekspresikan permusuhan dan kemarahan terhadap seseorang, kelompok, atau objek tertentu”.
Teori-teori tentang Benci
a. Penjelasan biologis mengenai benci
Agresi beserta manifestasi internalnya sebagai sisi kemanusiaan yang memiliki dasar biologis dan bersifat alamiah; artinya, secara biologis kita memiliki predisposisi yang bersifat bawaan genetis untuk membenci.
Penjelasan Etologis
Etolog Konrad Lorenz (1967) dan Eibl-Eibesfeldt (1971,1979) mengatakan bahwa agresi merupakan produk dari proses evolusioner yang bersifat adaptif. Menurut pendapat ini, kebencian bersifat terberi karena agresi bersifat adaptif bagi evolusi spesies kita.
Para teori etologi ini juga mengatakan bahwa berbagai tendensi agresif alamiah dapat saja terdistorsi dan kadangkala diekpresikan secara tidak tepat.sebagai contoh, karena masyarakat modern kita mengekang berbagai tindakan agresif ,maka frustasi berawal dari agresi alamiah ini dapat menghasilkan suatu bentuk penumpukan agresi yang memerlukan tindakan untuk mengekspresikan atau melampiaskan agresi itu.
Berbagai solusi etologis terhadap agresi sering kali terbukti tidak afektif. Penjelasan etologis umumnya memberikan kesan bahwa agresi tidak dapat dihindari. Jika hal itu terkait dengan gen kita, maka hal itu tidak dapat dihentikan (Silverberg & Gray,1992,Stoff & Cairns,1996).
Gangguan Otak
Kepribadian agresif dan penuh kebencian melibatkan gangguan struktur dan gangguan otak yang disebabkan oleh obat. Berdasarkan sejumlah eksprimen yang dilakukan di dalam laboratorium hewan diketahui bahwa stimulasi terhadap sejumlah pusat di otak dapat menghasilkan kemarahan yang intens dan tak kunjung padam (Adams dkk,1993).Memang,beberapa orang yang terbukti memiliki kecenderungan untuk berang dan menaruh kebencian yang hebat ditemukan memiliki struktur otak yang abnormal serta cedera pada dan dekat hipotalamus dan amigdala (lobus temporal).
Gangguan otak biasanya diasosiasikan dengan kemarahan mendadak dan tidak terkontrol alih-alih dengan rencana untuk membunuh jutaan orang yang dilakukan secara dingin, penuh perhitungan dan perencanaan.
Berbagai studi yang menggunakan positron emission tomography (PET) scan memperlihatkan bahwa orang dengan kepadatan dari reseptor dopamin yang rendah (reseptor-reseptor D2) yang terletak diarea basal ganglia dari otak, cenderung memiliki kepribadian yang menjaga jarak dan dingin (Farde,Gustavsson,Josson,1997). Dopamin,sebuah neurotransmiter (pembawa pesan kimiawi) penting berkaitan dengan suasana hati (mood) dan berbagai defiseinsi neurotransmiter sebagian ditentukan secara genetis (Hendricks dkk,2003).
b. Pendekatan psikoanalitik mengenai benci
Freud membuat dalil mengenai eksistensi insting atau dorongan agresif. Pada kenyataannya,ia berteori bahwa semua manusia memiliki insting kematian. Thanatos yang merupakan dorongan yang terarah pada kematian dan prilaku meruusak nilai (self-destructive), yang namanya diambil dari dewa kematian Yunani.Meskipun demikian, prilaku merusak diri tidak diterima didalam masyarakat modern (Weiningger,1996). Seperti hal nya impuls-impuls seksual yang tidak dapat diterima secara sosial, energi ini harus dilepaskan atau disalurkan dengan cara-cara yang secara sosial tepat.
Salah satu mekanisme yang dilibatkan dapat berupa memproyeksikan impuls-impuls kematian ke objek yang dibenci , yakni dengan mengatribusikan kebencian keorang lain. Sebagai contoh, mereka mungkain melihat orang lain sebagai sosok yang agresif, penuh kebencian, dan berbahaya.
c. Pandangan Neo-Analitik mengenai benci
Jung berhipotesis mengenai sejumlah elemen yang umum disemua kepribadian manusia, arketip, salah satu arketip khusus , yang disebut shadow, adalah tempat insting-insting hewan dan primitif berada. Dengan demikian, menurut Jung ekpresi shadow yang tidak sesuai atau terkontrol dapat mengakibatkan kebencian dan agresi yang amat kuat seperti yang terjadi kepada Hitler, selain itu, ingatlah bahwa Jung menjelaskan tipe-tipe psikologis yang didasarkan pada kedudukan individu dalam tipologi.
Alfred Adler dan Karen Horney juga berkeyakinan (seperti Freud dan Jung) bahwa kepribadian yang bermusuhan dan penuh kebencian berkembang pada masa kanak-kanak,namun para ahli neu-analitik ini tidak menyatakan bahwa kepribadian seperti itu ditimbulkan secara langsung dari insting atau dorongan biologis.
Karen Horney yang juga memandang masa kanak-kanak sebagai sesuatu masa kehidupan dimana seorang individu dapat menjadi penuh kebencian,menyatakan bahwa anak-anak harus merasa aman ketika kanak-kanak agar dapat berkembang sebagaimana semestinya.
Horney menyajikan cara-cara pertahanan diri yang dapat dipakai anak-anak yang menjadikorban kekerasan.Salah satu mekanisme ini adalah meraih kekuasaan dan superioritas terhadap yang lain,yang melawan perasaan bahwa seorang tidak berdaya atau diperlukan secara salah.
Menurut Erikson,tahap-tahap psikososial yang tidak diselesaikansecara berhasil akan menghasilkan individu yang memilki sifat pemarah, bermusuhan, dan penuh kebencian:
1) Anak yang tidak mengembangkan kepercayaan yang memadai semasa bayi,cenderung mengembangkan pola untuk senantiasa curiga dalam kehidupan kelak.
2) Anak yang diperlukan deengan cara yang bermusuhan ketika dia didorong mencapai otonomi dapat menjadi destruktif dan marah.
3) Akhirnya,jika inisiatif anak dihukum dan dihalangi alih-alih ditantang secara realistik,anak bisa gagal dalam mengembangkan superego yang memadai. Individu ini, yang orang tua nya kurang membekalinya dalam ketiga tahap perkembangan psikososial ini, cenderung menjadi orang dewasa yang penuh kebencian dan agresif.
d. Kebencian dan Otoritarianisme:Erich Fromm
Fromm menekankan iklim sosial seperti halnya sejarah pribadi individual sebagai sumber kemarahan dan kebencian. Fromm berteori bahwa individu merasa lebih sendiri dan terisolasi seiring dengan kemajuan peradaban dan seiring dengan meningkatnya kebebasan individual yang diperoleh orang-orang. Dalam rangka meniadakan perasaan kesepian dan alienasi, ia berteori beberapa orang meninggalkan kebebasannya, melepaskan individualitas dan prinsip-prinsipnya agar dapat menjadi bagian kelompok,berapapun harganya.
Dengan demikian, Fromm memadukan determinan biologis dan non biologis yang menghasikan kapasitas untuk melakukan kekerasan, dan ia menerima bahwa kanalisasi secara tidak tepat dari dorongan-dorongan ketika kanak-kanak dapat menciptakan berbagai masalah sepanjang hidup,namun ia meletakkan kesalahan terbesar pada kegagalan dalam menemukan makna didalam sebuah masyarakat yang kosong.Dengan demikian ia menggabungkan elemen-elemen dari pandangan eksistansial dan humanistik dalam memandang kebencian.
e. Pendekatan humanistik menngenai kebencian
Mereka menggaris bawahi pentingnya moralitas, keadilan, komitmen, yang melibatkan pemikiran yang kompleks dan kesadaran diri.kontras dengan para psikoanalis dan neo-analis, para psikolog humanistik lebih banyak berfokus pada individu-individu yang matang dan mencapai aktualisasi diri dibandingkan berfokus pada individu yang penuh kebencian yang banyak sekali jumlahnya. Mereka lebih melihat aspek-aspek yang mengarah pada sisi positif, dari apa yang dikelliru dalam pengasuhan.meskipun demikian, penjelasan humanistik mengenai kebencian individu dapat diturunkan dari teori-teorinya.
Psikolog humanistik Carl Rogers berkeyakinan bahwa emosi negatif berasal dari kurangnya penghargaan positif dalam kehidupan individu,khususnnya yang diberikan oleh orang tua selama masa kanak-kanak.
Abraham Maslow(1968)juga memperlihatkan bahwa berbagai ketakutan keraguan kita mengenai diri sendiri berakar dari ketidak matangan dan kebencian. Ia berfokus pada berbagai kebutuhan akan keamanan yang tidak terpenuhi sebagai penyebab terjadinya orang dewasa yang neurotik. Seperti Rogers, Maslow bersikeras berpendapat bahwa kejahatan dan kebencian bukan lah sisi mendasar dari kepribadian seseorang melainkan merupakan akibat dari defisiensi lingkungan.
f. Kebencian sebagai suatu trait
Bagi para teoris trait , trait-trait seperti agresif merupakan bagian dari organisasi dinamik kepribadian, bagian-bagian kepribadian yang menggiring individu untuk bertindak dengan cara-cara tertentu. Raymond cattel menggunakan analisis faktor untuk menyaring trait-trait manusia yang umum, mengisolasi trait-trait tertentu, yang bila menggejala secara kuat membentuk trait-trait dari seorang pembunuh.
Bagi Hans Eysenck, dimensi kepribadin yang paling relevan dengan kebencian adalah psikotism. Seorang yang tinggi dalam dimensi ini memiliki sifat impulsif, kejam, keras hati, dan antisosial.
Dalam riset terapan mengenai agresi, psikolog seymaur feshbach (1971) memandang kemarahan sebagai suatu reaksi emosional yang mencapai puncaknya dalam bentuk perilaku yang penuh kebencian. Feshbach menemukan bahwa berbagai respon emosional lainnya seprti empati dan altruisme dapat melawan agresi. Artinya, feshbach mengatakan bahwa empati dapat menghambat respon seseorang terhadap konteks sosial yang membangkitkan berbagai perasaan dan perilaku agresif.
g. Pendekatan kognitif terhadap benci
Mereka justru menekankan bahwa bukan pengalaman riil individu,namun cara seseorang menginterpretasikan atau memahami berbagai relasi dan pengalamannyalah yang menentukan tindakan-tindakannya.menurut pandangan ini,kebencian dan agresif tergantung pada bagai mana cara kita belajar menjelaskan dunia.
George Kelly sebagai contoh,melihat pemahaman personal menngenai orang lain. Ia menemukan bahwa beberapa orang tidak membuat banyak pembedaan diantara orang lain mereka cendrung lebih melihat orang lain sebagai sama satu sama lain. Orang yang lebih otoritarian seperti ini,memperlihatkan apa yang oleh Kelly(1963) disebut kognitif simplicity. Hal iini memungkinkan seseorang menganggap seluruh kelompok orang sebagai musuh-musuhnya.
h. Teori belajar:kebencian sebagai perilaku yang dipelajari
Berbagai teori belajar menyatakan bahwa agresi diperoleh melalui berbagai mekanisme yanng sama seperti semua perilaku. Teori belajar klasik menyatakan bahwa emosi yang penuh kebencian merupakan respon – respon yang terkondi, sementara teori belajar operant menekankan peran dari pennguatan dan hukuman dalam membentuk agresivitas yang dipelajari. Teori belajar sosial menggabungkannya dengan menyatakan bahwa perilaku benci merupakan hasil dari modeling, observasi, imitasi, dan vicariously reinforced (sangat dibesarkan).
Memang benar bahwa jika perilaku benci memperoleh penguatan, entah karena itu dapat menarik perhatian, entah karena membangkitkan pujian dari orang lain, atau karena menguntungkan material, maka orang itu akan terus bertindak dengan cara bermusuhan. Pada kenyataan, sebenarnya agresi dapat semakin kuat.
i. Perbedaan budaya yang terkait kebencian
Beberapa masyarakat tergolong bersifat sangat agresif, sedang yang lain hanya memperlilhatkan sedikit permusuhan dalam relasi antarpersonal. Rupanya, ada sesuatu dalam tatanan sosial yang terkait dengan fakta ini.
Bahwa diperbatasan Amerika Serikat, ditemukan bahwa perbedaan budaya memprediksikan perbedaan taraf permusuhan. Nisbett dan Cohen (1996) yang membandingkan bahwa dinegara-negara bagian utara AS dengan negara bagian selatan,menemukan bahwa rata-rata pembunuhan yang lebih tinggi di selatan.
Benci yang salah arah
Dari pengertian dan penjelasan tentang benci diatas kami mengambil kesimpulan bahwa benci yang salah adalah benci yang berlebihan yang menyebabkan orang lain menderita. Contoh: teroris. Dan benci kepada kebenaran.
Biokomia Cinta
Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan, dsb. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario” yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita, dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.
Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan bahwa cinta adalah salah satu dari macam emosi yang berupa: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kemesraan.
Teori-Teori tentang Cinta
a. Penjelasan dari Teori PEA
Ada beberapa tokoh yang menyatakan pendapatnya, yaitu;
Helen Fischer, seorang antropologi dari Amerika serikat, yang melakukan penelitian selama bertahun-tahun yang menyatakan bahwa “Cinta itu tidak abadi!”. Disini ia mengungkapkan dan meneliti cinta yang dilihat dari hubungan antara jenis pasangan terutama yang sedang dilanda asmara, fenomena cinta sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dirasakan. Nah, ketika mata bertemu pandang yang berlanjut pada persentuhan tangan, biasanya orang akan merasakan gejala yang sama:- darah mengalir lebih cepat, semburat merah muncul di pipi, peluh dingin membasahi telapak tangan, bahkan menghela napas pun jadi terasa berat. Dalam situasi seperti inilah hati bagaikan bergolak, disesaki oleh gelora cinta. Amboi indahnya!
Menurut Helen Fischer yang seorang peneliti cinta di Universitas Boston, Amerika Serikat ini lagi, reaksi romantik seperti itu timbul karena kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh, khususnya hormon yang diproduksi otak. Gelora cinta manusia yang meluap-luap tidak jauh berbedanya dengan reaksi kimia. Malangnya, senyawa antara hormon ini sangat singkat. Dan, berdasarkan teori Four Years Itch yang diumumkannya, daya tahan gelora cinta itu hanya mencapai empat tahun saja. Setelah itu, hancur tanpa kesan lagi.
Sebagaimana yang terjadi pada sebuah reaksi kimia, wujudnya tidak akan pernah kembali seperti semula. Sesungguhnya pula, perasaan yang menghanyutkan dalam masa jatuh cinta tadi bisa dianalisis secara kimia. Jadi, prosesnya dimulai pada saat mata saling bertemu. Tangan yang bersentuhan bagaikan dialiri arus eletrik. Fenomena ini sudah pasti karena reaksi hormon tertentu yang ada di otak, mengalir ke seluruh saraf hingga ke pembuluh darah yang terkecil sekalipun. Inilah yang membuat wajah memerah, dan timbul perasaan “melayang”. Aliran darah yang demikian cepat membuat bernafas pun menjadi berat. Mak serrr.... gitulah.
Ia menentukan beberapa fase kerja hormon dalam otak ketika seseorang sedang jatuh cinta, yaitu sebagai berikut:
· Fase pertama:
Dapat dijelaskan sebagai berikut, Ketika hubungan mata sedang berlangsung, tertanam suatu `kesan’. Pada fase ini otak bekerja bagaikan komputer yang menyediakan sejumlah data, dan menserasikannya dengan sejumlah data yang pernah dirakam sebelumnya. Ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini, bau yang ditimbulkan oleh lawan jenis pun boleh menjadi pemicu timbulnya rasa romantik.
· Fase kedua:
yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak. Inilah sebabnya ketika terkesan oleh seseorang, secara otomatis senyum pun terkembang. Spontan, kilang PEA pun aktif bekerja ketika peluit cinta mula dibunyikan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia, turut mendampingi. Hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektivitas hormon-hormon ini mula berkurang.
· Fase ketiga:
yaitu ketika gelora cinta sudah reda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak. Sebagaimana efek yang ditimbulkan morfin dan sebagainya, saat inilah tubuh merasa nyaman, damai, dan tenang. Ada hormon lain yang akhir-akhir ini dihubungkan dengan cinta. Diproduksi oleh otak, hormon ini membuat saraf menjadi sensitif. Saat itulah tubuh akan didorong untuk merasakan sensasi cinta. Hormon ini pulalah yang diduga boleh mendorong terjadinya proses orgasme ketika bercinta atau melakukan hubungan seksual.
Ada juga teori cinta dengan pendekatan bioneurologi yang melihat, membandingkan, dan mengamati struktur otak orang gila misalnya, atau psikologi dan fisiologi yang mempelajari kaitan antara perilaku manusia dan pengaruh hormon pada tubuhnya.
Cinta sebenarya sama dengan emosi. Kalau emosi seringkali ditentukan oleh sejumlah hormon (terutama dalam siklus menstruasi), maka hal yang sama juga berlaku dalam proses jatuh cinta.
Menurut Diane Lie seorang psikolog pada sebuah Universitas di Beijing membentangkan teorinya, meskipun urusan cinta dapat dijelaskan secara kimia, namun kecamuk cinta tidak semata-mata hanya ditentukan oleh aktivitas hormon, dan manusia tidak berdaya mengatasinya. Juga tidak selalu berarti bila kadar hormon berkurang, berarti getarannya pun berkurang.
Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi, memiliki pengaruh kerja yang tidak tahan lama. Hormon yang secara ilmiah memiliki kesamaan dengan amfetamin ini, hanya efektif bekerja selama 2-3 tahun saja. Lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, `kebal’ terhadap si pemicu gelora.
Masih menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-mata hanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimianya. Apalagi dalam proses orang bercinta hingga menikah, banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cinta yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai ananing tresno jalaran soko kulino (cinta datang karena biasa berinteraksi). Demikian pula ketika kita marah dan ingin memaki orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lain yang ikut menentukanya.
Manusia merupakan makhluk yang paling kompleks. Jika proses reaksi kimia terjadi pada hewan, barulah teori rendahnya daya tahan PEA ini boleh dipercayai. Jadi, teori Helen Fiscer yang disebut Four Years Itch juga boleh dipatahkan. Pendeknya, teori PEA dilandaskan pada pendekatan ilmu eksakta, sedangkan teori Four Years Itch oleh Fischer yang lingkaran penelitiannya mencakup 62 jenis kultur ini, lebih menggunakan pendekatan sosial. Fischer, yang juga penulis buku ” Anatomy of Love “, menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia perkawinan mencapai usia empat tahun. Kalaupun masa empat tahun itu telah dilalui, katanya, kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kondisi ini membuat perkawinan mereka boleh bertahan hingga empat tahun lebih.
Menurut pandangan Diane, dalam hubungan suami istri atau bercinta, selain cinta, ada hubungan lain yang sifatnya friendship, (persahabatan). Kalau setelah beberapa waktu cinta itu menipis – mungkin karena tersisihkan hal-hal lain, misalnya karena rutin yang dilakukan adalah hal-hal yang sama juga setiap hari, lalu segalanya jadi terasa membosankan.
Nah tentunya sekarang kita sadar, bahwa begitulah proses mengembang-meredupnya cinta. Dengan demikian ini dapat menjadi bahan antisipasi bagi pasangan menikah dan menjadi bahan untuk menemukan cara agar cinta selalu hangat di tengah perjalanan hubungan.
Wallahu a'lam.
Bagaimana Puasa Menjadikan Sehat?
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Berpuasalah maka kamu akan sehat"
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)
Bagaimana puasa dapat membuat kita sehat?
1. Lambung beristirahat. Sistem pencernaan yang dimulai dari gigi geligi dan mulut hingga usus besar memiliki kesempatan untuk mengosongkan diri. Permukaan rongga saluran cerna juga memiliki waktu yang cukup untuk berkontak dengan aneka zat makanan yang boleh jadi tidak sehat. Sekresi enzim pencernaan mengalami irama yang lebih teratur.
2. Karena menyadari sedang berada dalam state ibadah, gelombang otak menjadi lebih teratur, lebih sering memancarkan gelombang alpha antara 8-13Hz. Pada kondisi ini hormon katekolamin yang menyebabkan stress mereda, sebaliknya terjadi peningkatan sekresi endorfin dan serotonin, hormon yang menghasilkan efek perasaan tenang dan bahagia.
3. Karena stres mereda, sel imun (kekebalan tubuh) meningkat. Tubuh menjadi lebih kuat terhadap risiko infeksi. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah total limfosit memang berkurang, namun aktivitas sel NK dan T limfosit meningkat secara signifikan.
“Puasa itu benteng [sistem imun/kekebalan tubuh].” [HR. Bukhari dan Muslim]
4. Organ pembuang racun seperti hati, ginjal dan kulit memiliki beban yang lebih ringan. Proses detoksifikasi berlangsung lebih sempurna.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"
(HR. Ibnu Majah)
5. Pada kondisi ini pikiran menjadi lebih tajam dan lebih kreatif. Pikiran melambat, memberikan waktu untuk tidak terburu-buru. Prasangka lebih terolah. Perasaanpun menjadi lebih tenang. Perasaan dan pikiran positif adalah indikasi dari sehatnya mental.
Maka tidak salah jika puasa selain diwajibkan bagi umat Rasulullah Muhammad juga diwajibkan bagi umat-umat sebelumnya.
Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)



